SUNGAI PROGO

Sina tidak langsung mati.
Itu kabar baik.
Setidaknya selama beberapa jam pertama, kami semua memegang kabar itu seperti orang tenggelam memegang kayu.
Rumah sakit terdekat penuh bau antiseptik dan suara sandal tergesa.
Aku duduk di depan ruang tindakan.
Bajuku masih basah.
Ada lumpur di celana.
Darah Sina mengering di lengan.
Tanganku gemetar.
Aku menekannya di antara lutut.
Tidak membantu.
Sudrajat duduk di sebelahku.
“Bukan salahmu.”
Kalimat paling tidak berguna yang bisa dikatakan kepada orang yang baru gagal menangkap tangan seseorang.
Aku menatap lantai.
“Gue pegang tangannya.”
“Lo udah coba.”
“Gue pegang.”
“Solo.”
“Terus lepas.”
Ia diam.
Bagus.
Kadang diam lebih sopan daripada penghiburan.
Pintu ruang tindakan terbuka.
Dokter keluar.
Aku berdiri terlalu cepat.
“Dok?”
“Siapa keluarga?”
Tidak ada.
Kami saling pandang.
“Keluarganya lagi dihubungi,” kata guru pendamping.
Dokter mengangguk.
“Cedera kepala. Ada trauma di punggung. Untuk sementara kondisinya stabil.”
Aku baru sadar menahan napas.
“Dia sadar?”
“Belum.”
“Bisa sadar?”
Dokter menatapku.
Bukan tatapan yang kusukai.
“Kita tunggu.”
Kalimat kedua paling tidak berguna malam itu.
Aku pulang hampir tengah malam.
Ibu menunggu di ruang depan.
Tidak bertanya banyak.
Ia melihat darah di bajuku.
“Temanmu?”
Aku mengangguk.
“Perempuan?”
Aku menatap Ibu.
Saat begitu kok masih sempat.
“Iya.”
“Parah?”
Aku duduk.
“Kepalanya.”
Ibu mengambil air.
Aku minum.
Tanganku masih gemetar.
“Namanya?”
“Sina.”
Ibu berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Tapi aku melihat.
“Apa?”
“Tidak.”
“Ibu kenal?”
“Tidak.”
Jawabannya cepat.
Terlalu cepat.
Malam itu rupanya penuh orang yang menjawab terlalu cepat.
Aku memandangnya.
“Nama lengkapnya Alexandria Sienna.”
Ibu menaruh gelas.
“Tidur.”
“Ibu kenal?”
“Solo.”
“Kenal?”
“Tidak.”
Nada suaranya menutup pintu.
Aku diam.
Lalu berdiri.
Sebelum masuk kamar, Ibu memanggil.
“Batu itu di mana?”
Aku menoleh.
Pertanyaan datang dari tempat yang salah.
“Apa?”
“Batu pemberian Bapakmu.”
Jantungku bergerak sedikit lebih cepat.
“Kenapa?”
“Masih kamu simpan?”
“Iya.”
Ibu mengangguk.
“Jangan dibawa ke mana-mana.”
Aku menatapnya.
“Aku tadi bawa.”
Wajah Ibu berubah.
Hanya sedikit.
Tapi cukup.
“Ke mana?”
“Sekolah.”
Diam.
“Kenapa?”
“Solo.”
“Kenapa semua orang kalau ngomongin batu itu mendadak jadi aneh?”
Ibu tidak menjawab.
Aku naik ke kamar.
Pintuku kututup.
Kuncinya kuputar.
Tas kubuka.
Batu itu masih ada.
Keluarkan.
Taruh di meja.
Tiga lengkungan.
Delapan garis.
Aku menyalakan lampu.
Mendekat.
Ada bekas air di permukaan batu.
Mungkin dari Sungai Progo.
Aku hendak mengeringkannya ketika melihat sesuatu.
Guratan tipis di bawah tulisan berubah warna.
Bukan bercahaya.
Lebih seperti basah dari dalam.
Aku menyentuhnya.
Dingin.
Lalu terdengar suara.
Sangat pelan.
Seperti dengung listrik.
Aku tarik tangan.
Suara hilang.
Sentuh lagi.
Dengung muncul.
Aku membeku.
Bodoh, mungkin.
Tapi waktu itu aku belum tahu bahwa rasa takut punya satu kebiasaan buruk.
Ia selalu mendorong manusia mendekat pada benda yang seharusnya dijauhi.
Aku menempelkan telinga ke batu.
Dengung.
Kemudian—
suara.
Bukan kata.
Belum.
Hanya satu pola.
Tiga nada pendek.
Diam.
Tiga nada pendek lagi.
Aku menjauh.
Jantungku keras.
Lalu telepon rumah berdering.
Aku tersentak.
Turun.
Ibu sudah mengangkat.
Wajahnya pucat.
“Ya.”
Diam.
“Baik.”
Ia menutup telepon.
Menatapku.
“Keluarganya Sina sudah datang.”
Aku menelan ludah.
“Dia sadar?”
Ibu menggeleng.
“Belum.”
“Terus?”
Ibu memegang sandaran kursi.
“Dokter bilang ada kemungkinan…”
Ia berhenti.
“Apa?”
“Kalau nanti sadar…”
Aku menunggu.
“…dia mungkin tidak mengingat semuanya.”
Dunia terasa mengecil.
Aku kembali ke kamar.
Batu masih di meja.
Tiga nada.
Diam.
Tiga nada.
Aku menutupnya dengan kain.
Tapi dengung itu tetap terdengar di kepalaku.
Jejak Pembaca