NAPAK TILAS

Kalau cinta pertama bisa dihitung secara matematis, mungkin rumusnya sederhana:
semakin keras dua orang berusaha terlihat biasa, semakin jelas mereka sedang jatuh cinta.
Aku dan Sina ahlinya.
Kami tidak pernah jadian.
Istilah itu bahkan terasa terlalu resmi.
Tidak ada deklarasi.
Tidak ada kontrak.
Tidak ada tanda tangan bermeterai.
Kami cuma semakin sering bersama.
Dan semakin sering berpura-pura bahwa itu kebetulan.
Buku berpindah tangan.
Catatan matematika.
Kaset.
Cerita keluarga.
Mimpi.
Rencana setelah lulus.
Semua kecuali satu.
Batu.
Sejak hari di perpustakaan, Sina tidak pernah menanyakannya lagi.
Aku juga tidak.
Kesepakatan diam-diam.
Tetapi ada perubahan kecil.
Setiap kali Borobudur disebut, matanya berhenti sesaat.
Seperti otaknya mendengar sesuatu yang telinganya tidak dengar.
Rencana napak tilas muncul menjelang akhir sekolah.
Berjalan kaki dari sekolah menuju Borobudur.
Enam jam.
Naik turun perbukitan.
Menyusuri sungai.
Anak-anak pencinta alam langsung semangat.
Aku ikut.
Sina juga.
Itu yang membuat beberapa teman perempuan mulai julid.
Sina bukan profil orang yang mereka bayangkan mau berpanas-panasan enam jam, melompati bebatuan dan membiarkan kulitnya disengat matahari.
Aku tidak ikut perdebatan.
Alasannya sederhana.
Aku tahu kenapa dia ikut.
Setidaknya aku merasa tahu.
Karena aku ikut.
Kadang kesombongan laki-laki memang menyenangkan sebelum realitas datang menampar.
Kami berangkat pagi.
Sina berjalan di sampingku hampir sepanjang perjalanan.
“Capek?” tanyaku.
“Belum.”
“Masih jauh.”
“Takut aku nyusahin?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
Ia menyikut lenganku.
Kami tertawa.
Beberapa teman di depan menoleh.
“Cieeee…”
Sina mengambil kerikil dan pura-pura melempar.
Mereka berlari.
Aku mempercepat langkah.
Sina menyusul.
Untuk beberapa kilometer, dunia terasa sempurna.
Aku bahkan sempat berpikir mungkin Ayah salah.
Mungkin batu itu memang cuma batu.
Mungkin Borobudur cuma candi.
Mungkin manusia tidak perlu mengubah setiap benda tua menjadi misteri hanya karena belum memahami asalnya.
Lalu Sina berhenti.
Mendadak.
Aku hampir menabraknya.
“Kenapa?”
Dia menatap ke kiri.
Hutan kecil.
Tidak ada apa-apa.
Rombongan terus berjalan.
“Sina?”
“Dengar nggak?”
Aku diam.
Suara serangga.
Burung.
Air jauh di bawah.
“Apa?”
Dia tidak menjawab.
Matanya mengikuti sesuatu yang tidak kulihat.
Kemudian dia berjalan meninggalkan jalur.
“Hei.”
Aku menyusul dan menangkap lengannya.
“Mau ke mana?”
Sina seperti baru sadar.
Ia melihat sekeliling.
“Aku…”
“Apa?”
“Kirain lewat sini.”
“Jalurnya sana.”
Aku menunjuk rombongan.
Dia mengerutkan dahi.
“Enggak.”
“Enggak apa?”
“Harusnya lewat sini.”
Aku tertawa.
“Kamu baru pertama ikut.”
“Aku tahu.”
“Terus kok tahu jalannya?”
Sina tidak menjawab.
Kami berdiri beberapa meter dari jalur utama.
Di depan kami hanya pepohonan dan semak.
Aku mulai menariknya kembali.
Lalu kulihat sesuatu.
Batu.
Setengah tertutup tanah.
Permukaannya datar.
Aku jongkok.
Membersihkan lumut dengan tangan.
Tidak ada tulisan.
Hanya guratan.
Tiga lengkungan.
Darahku terasa turun ke kaki.
“Sina.”
Dia melihatnya.
Wajahnya berubah.
“Ini…”
Aku belum selesai bicara ketika Sina mundur.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Jangan disentuh.”
“Tadi aku sudah—”
“Solo.”
Nada suaranya membuatku berhenti.
Rombongan memanggil dari kejauhan.
“SOLOOO!”
Aku berdiri.
Sina masih menatap batu.
“Ayo.”
Dia tidak bergerak.
“Sina.”
Akhirnya ia mengikuti.
Kami kembali ke jalur.
Tidak ada yang bertanya.
Tidak ada yang tahu.
Tapi sejak saat itu Sina tidak lagi banyak bicara.
Menjelang sore kami sampai ke jalur Sungai Progo.
Debit sedang rendah.
Batu-batu besar muncul dari permukaan air, membentuk pijakan alami menuju tepian seberang dan jalur naik ke arah Borobudur.
Aku mendahului.
Beberapa teman menyusul.
Aku berdiri di batu besar dekat tepian, membantu satu per satu.
Sina berada beberapa orang di belakang.
Aku melihatnya.
Dia melihatku.
Senyumnya kembali.
Nah.
Dunia normal lagi.
“Sini!” teriakku.
Sina melangkah.
Satu batu.
Dua.
Tiga.
Lincah.
Teman di belakangnya bahkan sempat berteriak menggoda.
Aku mengulurkan tangan.
Jarak kami tinggal beberapa meter.
Kemudian Sina berhenti.
Bukan terpeleset.
Berhenti.
Kepalanya menoleh ke arah Borobudur.
Wajahnya kosong.
“Sina?”
Dia seperti mendengar sesuatu.
Aku mengikuti arah pandangannya.
Tidak ada apa-apa selain pepohonan dan langit.
“Sina!”
Matanya kembali kepadaku.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Ketakutan.
“Solo…”
“Apa?”
Dia mengatakan satu kata.
Suara sungai membuatku hampir tidak mendengarnya.
“Apa?”
Sina mengulang.
Kali ini jelas.
“Titik Nol.”
Kakiku terasa membeku.
Kalimat Ayah kembali dari malam terakhirnya.
Kalau waktunya tiba, pulanglah ke Borobudur.
Cari Titik Nol.
“Sina, dari mana kamu—”
Kakinya bergerak.
Pijakan meleset.
Tubuhnya miring.
“SINA!”
Tanganku menggapai.
Jari kami bersentuhan.
Sesaat.
Lalu terlepas.
Tubuh Sina jatuh menghantam batu.
Suara orang berteriak memenuhi sungai.
Aku melompat.
Air menghantam kakiku.
“SINAAA!”
Darah.
Seseorang berlari.
Seseorang berteriak minta bantuan.
Aku mengangkat kepalanya.
“Sina.”
Tidak ada respons.
“Sina!”
Matanya membuka sedikit.
Aku mendekat.
Bibirnya bergerak.
Hampir tanpa suara.
Kupikir dia akan menyebut namaku.
Bukan.
Satu kata keluar.
Kata yang pernah kudengar di perpustakaan.
Kata yang tidak pernah kuajarkan kepadanya.
“Kuta…”
Napasnya tersendat.
Matanya menutup.
“SINA!”
Aku memeluk tubuhnya.
Dan jauh di atas pepohonan, untuk pertama kalinya sejak kami memulai perjalanan, puncak Borobudur terlihat.
Diam.
Kelabu.
Menunggu.
Jejak Pembaca