← Semua Bab
Solowtu
BAB 1

SOLOWATU

4 min read·1 likes

Orang mati kadang punya selera humor buruk.

Ayah salah satunya.

Permintaan terakhirnya sederhana: kalau meninggal, jasadnya harus pulang ke tanah kelahirannya di Candimulyo, Magelang.

Sederhana bagi orang mati.

Yang repot tentu yang masih hidup.

Maka pulanglah kami.

Aku dan Ibu.

Beserta koper, kenangan, beberapa lukisan, barang-barang yang belum jelas status hukumnya—setidaknya menurut kecurigaanku belakangan—dan sebongkah batu yang sekarang kubungkus lebih rapi daripada pakaian dalam.

Usiaku delapan belas tahun.

Pada usia itu manusia biasanya sibuk mencari identitas.

Aku malah kebagian identitas dalam bentuk batu.

Solowatu.

Si penunggang kuda.

Begitu Ayah menerjemahkannya.

Aku tak pernah mempertanyakan nama itu sebelumnya. Nama adalah nama. Orang tua memberikan, anak menerima. Mirip utang negara, hanya skalanya berbeda.

Sekarang persoalannya berubah.

Ayah tidak memberikan nama itu.

Ia menemukannya.

Di atas batu.

Dan ia meninggal sebelum menjelaskan dari mana batu tersebut berasal.

Cakep.

Terima kasih, Pak.

Sang Timur Candimulyo menjadi dunia baruku.

Perbedaannya dengan sekolah-sekolah tempatku belajar sebelumnya cukup untuk membuatku sadar bahwa bumi memang bulat tetapi kehidupan manusia tidak pernah benar-benar rata.

Aku sudah pernah tinggal di beberapa negara. Belanda. Inggris. Singapura. Bahasa Jawa, Indonesia, Belanda dan Inggris dijejalkan orang tuaku sejak kecil. Berhitung juga.

Ayah selalu bilang kemampuan berbahasa membuat kita bisa memahami manusia.

Kemampuan berhitung membuat kita tidak mudah dibohongi manusia.

Dua-duanya ternyata belum cukup membuatku memahami Ayah sendiri.

Hari pertama masuk kelas, guru memperkenalkanku.

“Anak-anak, kita punya teman baru. Silakan perkenalkan diri.”

Aku berdiri.

“Nama saya Solowatu.”

Beberapa kepala langsung menoleh.

“Biasa dipanggil Solo.”

Seseorang di belakang berbisik cukup keras.

“Solo kok sekolah di Magelang.”

Tawa pecah.

Aku ikut tertawa.

Lebih murah daripada tersinggung.

“Dari mana, Solo?” tanya guru.

Pertanyaan sederhana yang ternyata sulit dijawab.

Dari mana?

Belanda?

Inggris?

Singapura?

Magelang?

Atau dari sebongkah batu?

“Terakhir dari luar negeri, Pak.”

“Negara mana?”

“Beberapa.”

Kesalahan.

Ruangan mendadak lebih sunyi.

Beberapa pasang mata mulai melakukan kalkulasi sosial.

Aku mengenali mekanismenya. Anak baru. Luar negeri. Bahasa asing. Sepatu berbeda. Cara bicara sedikit berbeda.

Spesies baru memasuki kandang.

Ibu sudah memperingatkan.

Jangan menonjol.

Nasihat bagus.

Sayangnya baru lima menit di sekolah dan aku sudah gagal.

“Duduk di sana.”

Aku mengikuti arah tangan guru.

Bangku kosong.

Dua baris dari belakang.

Saat berjalan ke tempat duduk, aku melihat seorang perempuan di dekat jendela.

Ia tidak ikut menatapku seperti yang lain.

Ia sedang menulis sesuatu.

Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah.

Aku lewat.

Baru ketika aku hampir sampai bangku, perempuan itu mengangkat kepala.

Mata kami bertemu.

Hanya beberapa detik.

Tetapi cukup untuk membuatku melakukan sesuatu yang sangat ilmiah:

lupa cara berjalan.

Kakiku menghantam kaki meja.

Brak.

Kelas tertawa.

Mantap.

Hari pertama.

Reputasi internasional langsung terbentuk.

Aku duduk.

Tidak melihat lagi ke arahnya.

Setidaknya selama tiga puluh detik.

Namanya Alexandria Sienna.

Aku baru tahu beberapa hari kemudian.

Teman-teman memanggilnya Sina.

Nama gaulnya punya sejarah sendiri, berkaitan dengan Sinaloa di Meksiko dan cerita keluarganya yang baru kuketahui jauh setelah kami dekat.

Pada awalnya aku cuma tahu tiga hal.

Dia tinggi.

Dia pintar matematika.

Dan hampir semua laki-laki di kelas mendadak punya gangguan koordinasi mata kalau dia lewat.

Aku termasuk.

Bedanya, aku berusaha profesional.

Gagal juga.

Kami mulai berbicara karena matematika.

Tepatnya karena dia mengoreksi jawabanku.

“Kamu salah.”

Aku melihat kertas.

“Yang mana?”

Sina menunjuk angka.

“Ini.”

“Jawabannya benar.”

“Caranya salah.”

“Kalau jawabannya benar kenapa dipermasalahkan?”

Ia menatapku.

“Kalau naik kereta ke Jakarta tapi jalurnya menuju Surabaya, kamu tetap mau bilang caranya benar?”

Aku memandang angka lagi.

Lalu dia.

“Oke.”

Senyumnya muncul.

Tipis.

“Katanya sekolah di luar negeri.”

Nah.

Berita bergerak cepat.

“Makanya salah. Jet lag.”

Ia tertawa.

Itu pertama kalinya.

Aku ingat suaranya.

Entah kenapa.

Beberapa minggu kemudian kami mulai sering pulang bersama.

Tidak direncanakan.

Setidaknya begitu kebohongan yang kami sepakati tanpa pernah membicarakannya.

Aku menunggu lebih lama di gerbang.

Dia kebetulan keluar terlambat.

Besoknya terulang.

Lusa juga.

Statistik yang sangat mencurigakan.

Tapi siapa peduli.

Ada masa ketika hidup terasa sangat sederhana. Matahari sore. Jalan desa. Tas sekolah. Bau tanah. Suara sepeda. Dua anak delapan belas tahun berjalan terlalu pelan karena sama-sama tidak ingin sampai tujuan.

Sampai suatu sore Sina bertanya:

“Ayahmu kerja apa?”

Pertanyaan itu.

Aku menendang batu kecil di jalan.

“Pedagang.”

“Dagangan apa?”

“Seni.”

“Lukisan?”

“Macam-macam.”

“Pantes.”

“Pantes apa?”

“Kamu aneh.”

Aku menoleh.

“Hubungannya?”

“Anak seniman biasanya aneh.”

“Ayahku bukan seniman.”

“Katanya seni.”

“Pedagang seni.”

“Bedanya?”

“Kalau seniman bikin barang. Pedagang menjual barang.”

“Kalau barangnya bukan punya dia?”

Langkahku berhenti.

Sina masih berjalan dua langkah sebelum sadar.

Ia menoleh.

“Apa?”

“Kenapa tanya begitu?”

Sekarang dia yang bingung.

“Ya… cuma tanya.”

Aku menatapnya.

Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa.

Aku kembali berjalan.

“Bercanda.”

“Garing.”

“Belum kenal humor internasional.”

Dia tertawa.

Percakapan selesai.

Seharusnya.

Tetapi malam itu aku membuka lemari.

Mengeluarkan bungkusan kain.

Membuka batu peninggalan Ayah.

Untuk pertama kali sejak pemakaman, kuletakkan benda itu di meja dan mengamatinya dengan serius.

Permukaannya tidak rata.

Salah satu sisi seperti patahan.

Bukan batu utuh.

Puing.

Aku mengambil kertas.

Menyalin aksaranya.

Solowatu.

Si penunggang kuda.

Kemudian aku melihat sesuatu yang selama ini terlewat.

Di bawah tulisan itu terdapat tiga guratan melengkung.

Sangat tipis.

Nyaris aus.

Aku mendekatkan lampu.

Tiga lengkungan.

Satu di dalam yang lain.

Aku mengambil pensil dan menyalinnya.

Lingkaran.

Lingkaran.

Lingkaran.

Aku belum tahu artinya.

Tetapi untuk pertama kalinya muncul pertanyaan lain.

Kalau batu itu hanyalah puing bertuliskan namaku—

mengapa Ayah menyimpannya di lemari besi?

READER NOTES

Jejak Pembaca

Tinggalkan Jejak

Komentar pertama dapat menunggu persetujuan. Setelah dikenal, komentar berikutnya dapat tampil otomatis sesuai pengaturan situs.