Batu yang Menyebut Namanya

1983
Ayah memanggilku menjelang tengah malam.
Bukan hal yang aneh sebenarnya. Beberapa bulan terakhir, malam dan siang sudah kehilangan batas di kamar kerjanya. Penyakit membuatnya lebih banyak terjaga ketika orang lain tidur dan tertidur ketika rumah mulai ramai.
Yang aneh adalah satu kalimat Ibu.
“Bapakmu minta kamu masuk sendirian.”
Aku berhenti di depan pintu.
“Sendirian?”
Ibu mengangguk.
Tidak ada penjelasan.
Hanya tatapan yang membuatku batal bertanya.
Kuketuk dua kali.
“Pak?”
“Masuk, Solo.”
Bau obat bercampur tembakau lama memenuhi ruangan.
Ayah sudah berhenti merokok berbulan-bulan sebelumnya, tetapi kamar itu seperti menolak melupakan kebiasaan pemiliknya. Rak-rak buku memenuhi dinding. Beberapa lukisan bersandar di lantai karena tak pernah sempat digantung. Ada wayang, patung kecil, gulungan kain, dua topeng Afrika, dan sebuah mangkuk biru yang katanya berasal dari Cina.
Aku tidak pernah benar-benar tahu mana koleksi, mana dagangan.
Belakangan aku bahkan tidak yakin mana yang seharusnya berada di rumah kami.
Ayah duduk membelakangiku.
Di hadapannya terdapat lemari besi kecil.
Pintunya terbuka.
“Duduk.”
Aku menarik kursi.
Napasnya terdengar berat. Paru-parunya sudah lama tidak bersahabat dengan tubuh yang menaunginya. Dokter punya istilah lebih bagus. Aku lebih suka menyebutnya pengkhianatan organ.
Ayah memasukkan tangannya ke dalam lemari besi.
“Bapak mau kasih sesuatu.”
“Sekarang?”
Ia menoleh.
“Kalau tidak sekarang, nanti kamu protes karena Bapak keburu mati.”
Aku tertawa kecil.
Dia tidak.
Tawaku mati sendirian.
Ayah mengeluarkan bungkusan sebesar dua kepalan tangan. Kainnya kusam, berlapis-lapis, diikat tali.
Ia meletakkannya di meja.
Aneh.
Tangannya gemetar ketika memegang gelas. Tetapi saat meletakkan benda itu, tangannya mendadak mantap.
“Buka.”
Aku melepas ikatannya.
Lapisan pertama.
Kedua.
Ketiga.
Batu.
Aku menatap Ayah.
“Ini?”
“Jangan meremehkan batu.”
“Bukan meremehkan. Cuma kalau Bapak mau kasih warisan, tadi aku sempat berharap kunci rekening Swiss.”
Biasanya dia tertawa.
Kali ini tidak.
Ia memutar batu itu perlahan.
Salah satu sisinya rata. Ada beberapa guratan pada permukaannya.
Aksara Jawa.
Aku mendekatkan lampu meja.
“Bisa baca?”
“Sedikit.”
“Baca.”
Kuperhatikan pahatan itu.
Tulisan pertama mudah.
Solo.
Tidak.
Aku melihat lagi.
Lebih panjang.
Solowatu.
Jantungku seperti terlambat berdetak sekali.
Ayah mengangguk.
“Namamu.”
Aku tertawa kecil lagi. Kali ini bukan karena lucu.
“Bapak yang bikin?”
Ia menggeleng.
“Namamu Bapak ambil dari batu ini.”
Aku memandang batu itu.
Lalu Ayah.
Lalu batu lagi.
“Batu ini dari mana?”
Ia tidak menjawab.
“Pak?”
Tangannya tiba-tiba menutup pergelangan tanganku.
Kuat.
Jauh lebih kuat daripada tubuhnya yang kurus membuatku menduga.
“Dengarkan Bapak.”
Aku diam.
“Jangan jual batu ini.”
“Ya.”
“Jangan kasih siapa-siapa.”
“Ya.”
“Jangan tunjukkan kepada orang yang tidak kamu percaya.”
Aku mulai tidak nyaman.
“Memangnya kenapa?”
Ayah melepaskan tanganku.
Tatapannya bergerak ke pintu.
Seperti memastikan Ibu tidak berdiri di sana.
Atau memastikan orang lain tidak berdiri di sana.
“Bapak pernah melakukan banyak hal yang tidak kamu mengerti.”
Nah.
Yang satu itu aku percaya.
Sejak kecil orang-orang datang ke rumah kami membawa berbagai bahasa, warna kulit, dan koper. Brasil. Rusia. India. Cina. Afrika. Ada yang makan bersama kami. Ada yang hanya masuk kamar kerja Ayah selama dua puluh menit lalu pergi.
Katanya urusan seni.
Aku tidak pernah bertanya terlalu jauh.
Mungkin seharusnya aku bertanya.
“Apa hubungannya sama batu ini?”
Ayah menarik napas panjang.
Kesalahan.
Batuknya langsung pecah.
Aku bangkit dan memegang bahunya.
Batuk kedua lebih keras.
Ketiga membuat tubuhnya terlipat.
“Pak!”
Ia mengangkat tangan, menyuruhku diam.
Butuh hampir satu menit sebelum napasnya kembali teratur.
“Batu itu…” katanya.
Aku menunggu.
“…bukan milik Bapak.”
“Lalu milik siapa?”
Tidak ada jawaban.
“Orang yang jual ke Bapak?”
Ia menggeleng.
“Bapak mencurinya?”
Tatapannya berubah.
Nah.
Pertanyaan yang salah.
Atau justru pertanyaan yang benar.
“Ada barang,” katanya pelan, “yang dicuri untuk dimiliki.”
Ia berhenti.
“Ada barang yang harus diambil supaya tidak dimiliki siapa-siapa.”
Aku tidak mengerti.
“Ini yang mana?”
Ia menatapku lama sekali.
“Kamu akan tahu.”
“Dari siapa?”
“Borobudur.”
Aku nyaris tertawa.
Bukan karena lucu. Karena otakku tidak menemukan respons lain.
“Candi bisa ngomong?”
“Manusia terlalu banyak ngomong. Makanya tidak pernah mendengar.”
Nah, ini baru Ayah yang kukenal.
Kalimat yang terdengar dalam tetapi cukup membingungkan untuk mengakhiri percakapan.
Ia bersandar.
Matanya terpejam.
Kupikir pembicaraan selesai.
Aku mulai membungkus kembali batu itu.
“Solo.”
Aku berhenti.
“Ya?”
“Kalau suatu hari ada orang datang dan mengatakan dia tahu arti namamu…”
Matanya terbuka.
“…jangan percaya.”
Aku mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
“Karena orang yang benar-benar tahu tidak akan mencari batunya.”
“Terus?”
Ayah memandang benda di tanganku.
“Dia akan mencari kamu.”
Udara kamar tiba-tiba terasa dingin.
“Siapa?”
Ayah tidak menjawab.
“Pak?”
Napasnya teratur.
Matanya tertutup.
Aku menunggu.
“Pak?”
Tidak ada jawaban.
Kupikir dia tertidur.
Aku berdiri membawa batu itu, lalu berjalan menuju pintu.
Tanganku baru menyentuh gagang ketika suara Ayah terdengar sekali lagi.
Begitu pelan hingga aku hampir mengira salah dengar.
“Kalau waktunya tiba… pulanglah ke Borobudur.”
Aku menoleh.
Ayah tetap memejamkan mata.
“Cari Titik Nol.”
Aku membeku.
“Titik apa?”
Kali ini benar-benar tidak ada jawaban.
Aku keluar membawa batu yang bertuliskan namaku.
Bertahun-tahun kemudian aku baru memahami satu hal.
Malam itu aku mengajukan pertanyaan yang salah.
Aku bertanya dari mana batu itu berasal.
Seharusnya aku bertanya:
Bagaimana mungkin sebuah batu tua mengetahui namaku sebelum aku dilahirkan?
Jejak Pembaca