ALEXANDRIA SIENNA

Aku membawa batu itu ke sekolah.
Keputusan bodoh.
Tapi manusia umur delapan belas tahun memang belum terkenal karena kemampuan mitigasi risiko.
Batu kubungkus kain dan kusimpan di dasar tas.
Niat awalnya sederhana.
Aku ingin mencari buku aksara Jawa di perpustakaan.
Tidak lebih.
Tidak ada rencana menunjukkan kepada siapa pun.
Terutama setelah pesan Ayah.
Jangan tunjukkan kepada orang yang tidak kamu percaya.
Masalahnya, definisi “orang yang kita percaya” sangat lentur kalau menyangkut perempuan cantik.
Perpustakaan hampir kosong ketika Sina masuk.
Aku sedang membandingkan salinan aksara di kertas dengan sebuah buku.
Dia duduk di depanku.
“Belajar apa?”
“Rahasia negara.”
“Wah.”
Dia menarik kertas sebelum sempat kutahan.
“Sina.”
“Solowatu.”
Aku diam.
Dia membaca tulisan itu.
Bukan mengeja.
Membaca.
“Dari mana kamu tahu?”
Sina mengangkat bahu.
“Ya itu kan namamu.”
“Bukan.”
Aku mengambil kertas.
“Kamu tadi langsung baca.”
“Memangnya?”
“Kamu bisa aksara Jawa?”
“Sedikit mungkin.”
“Diajari siapa?”
Sina berpikir.
“Entahlah.”
Jawaban yang sangat tidak memuaskan.
“Entahlah bagaimana?”
“Ya… pernah lihat mungkin.”
“Di mana?”
Ia kembali mengangkat bahu.
Aku memperhatikan wajahnya.
Tidak ada tanda berbohong.
Justru itu yang membuatku tidak nyaman.
Aku memasukkan tangan ke tas.
Berhenti.
Pesan Ayah muncul lagi.
Jangan tunjukkan.
Aku seharusnya mendengarkan.
Sebaliknya, aku mengeluarkan bungkusan kain.
Sina memperhatikannya.
“Apa itu?”
Kubuka perlahan.
Batu muncul.
Ekspresi Sina berubah.
Sangat kecil.
Tetapi aku melihatnya.
Bukan kagum.
Bukan bingung.
Takut.
“Kamu kenapa?”
“Enggak.”
Matanya tidak lepas dari batu.
“Kamu pernah lihat?”
“Enggak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Aku memutar batu sehingga tulisan menghadap kepadanya.
“Ini punya Ayahku.”
Sina tidak menyentuhnya.
“Dari mana?”
“Nah, itu masalahnya.”
Aku menceritakan sebagian.
Bukan tentang dugaan penyelundupan.
Belum.
Cuma tentang Ayah yang memberikannya sebelum meninggal dan mengatakan namaku berasal dari tulisan itu.
Sina mendengarkan.
Biasanya dia cepat menyela.
Kali ini tidak.
“Jadi batu ini lebih tua daripada kamu?”
“Kalau Ayah nggak bohong.”
“Kenapa dia punya?”
“Belum tahu.”
“Dari Borobudur?”
Aku membeku.
Sina juga.
Kami saling menatap.
“Apa?”
Dia mengernyit.
“Apa apa?”
“Kamu bilang Borobudur.”
“Memangnya?”
“Iya.”
“Ya mungkin karena dekat sini.”
Aku menutup kain.
“Tidak.”
“Apa?”
“Ayah juga bilang Borobudur.”
Wajah Sina pucat.
“Sina.”
“Aku harus masuk kelas.”
Ia berdiri.
Aku menahan pergelangan tangannya.
“Sebentar.”
Dia melihat tanganku.
Aku melepasnya.
“Maaf.”
Sina tidak pergi.
Aku membuka batu lagi.
“Lihat ini.”
Kutunjukkan tiga guratan melengkung di bawah tulisan.
“Aku baru sadar tadi malam.”
Sina menatapnya.
Satu detik.
Dua.
Lalu tangannya bergerak.
Telunjuknya menyentuh guratan paling luar.
Tubuhnya menegang.
“Sina?”
Matanya terpejam.
“Sina.”
Ia menarik napas tajam.
Kemudian berkata sesuatu.
Pelan.
Hampir berbisik.
Aku tidak memahami katanya.
“Ulangi.”
Matanya terbuka.
“Apa?”
“Kamu tadi ngomong.”
“Ngomong apa?”
Aku mencoba mengulang bunyinya.
Tidak persis.
Sesuatu seperti—
“Kuta…?”
Sina menatapku.
“Kuta apa?”
“Itu yang kamu bilang.”
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Kamu bilang.”
“Solo.”
“Aku dengar.”
Ia menatap batu.
Lalu menatapku.
“Bungkus.”
“Apa?”
“Batunya.”
Ada ketakutan nyata di matanya sekarang.
“Bungkus.”
Aku menurut.
“Kenapa?”
Sina menggeleng.
“Aku nggak tahu.”
“Ini bukan jawaban matematika.”
“Aku memang nggak tahu.”
Dia berdiri.
Kali ini benar-benar pergi.
Di pintu perpustakaan ia berhenti.
Tanpa menoleh, ia berkata:
“Solo.”
“Ya?”
“Jangan bawa itu lagi ke sekolah.”
Kemudian dia pergi.
Aku duduk sendiri.
Memandang bungkusan kain di meja.
Lima menit kemudian bel masuk berbunyi.
Aku memasukkan batu ke tas.
Baru ketika hendak menutup buku, kulihat sesuatu pada kertas tempat aku menyalin aksara.
Sina tadi memegang pensil.
Aku tidak ingat melihatnya menggambar.
Tetapi di pojok bawah kertas sekarang terdapat sebuah pola.
Tiga lingkaran.
Satu di dalam yang lain.
Persis seperti guratan pada batu.
Dengan satu tambahan.
Delapan garis memancar keluar dari pusatnya.
Jejak Pembaca