← Semua Bab
AHLI WARIS
BAB 9

BATU PENDULUM

4 min read·0 likes

Aku tidak membuka pintu.

Usia memberi manusia satu kemampuan yang tidak dimiliki ketika delapan belas tahun.

Curiga.

“Abdi siapa?”

Suara dari luar menjawab.

“Kalau daftar itu sudah dibaca, Anda tahu.”

“Saya juga tahu ada tujuh orang di daftar.”

“Delapan.”

Aku diam.

“Yang kedelapan Anda.”

“Bagus. Bisa berhitung.”

Tidak ada tawa.

Orang ini menyebalkan.

Aku melihat kamera kecil di atas pintu.

Laki-laki sekitar enam puluhan.

Kemeja putih.

Celana gelap.

Tidak membawa tas.

Tidak tampak seperti pembunuh.

Tapi menurut pengalamanku, pembunuh profesional jarang memakai kaus bertuliskan PEMBUNUH.

“Tujuan?”

“Melihat batu.”

“Tidak.”

“Bagus.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

“Kalau langsung dibuka, saya pulang.”

“Kenapa?”

“Berarti Anda belum siap.”

Aku mulai tidak suka percakapan ini.

“Siapa Anda?”

“Buka pintunya. Batu tetap di dalam.”

Aku berpikir.

Lalu membuka rantai pengaman.

Sedikit.

Wajah Abdi muncul.

Ia tersenyum.

“Sudah lama.”

Aku menatapnya.

“Kita pernah ketemu?”

“Belum.”

“Terus sudah lama apanya?”

“Menunggu.”

Aku hampir menutup pintu.

Tangannya tidak menahan.

Justru mundur.

“Pak Solo.”

“Ya.”

“Batu itu patah.”

Jantungku bergerak.

“Apa?”

“Sebelah kirinya hilang.”

Aku tidak menjawab.

“Dan ada tiga lingkaran di bawah nama Anda.”

Aku menutup pintu.

Mengunci.

Berdiri di belakangnya.

Sial.

Lima menit kemudian Abdi duduk di ruang tamu.

Batu tetap di kamar kerja.

Aku membuat kopi.

Bukan karena sopan.

Aku butuh kafein.

“Dari mana tahu?”

Abdi melihat cangkir.

“Gula?”

“Tidak.”

“Bagus.”

“Yang bagus apa?”

“Gula Anda.”

“Batunya.”

Ia menyeruput kopi.

Aku menunggu.

“Batu itu bukan artefak.”

“Terus?”

“Penunjuk.”

“Penunjuk apa?”

“Posisi.”

Aku tertawa kecil.

“Kompas?”

“Lebih tua.”

“Kompas juga tua.”

“Lebih tua.”

Aku mulai merindukan percakapan normal.

Politik.

Cuaca.

Harga beras.

Apa saja.

“Bapak kenal ayah saya?”

Abdi mengangguk.

“Sedikit.”

“Dia penyelundup?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Abdi menatapku.

“Ya.”

Jujur.

Tidak ada dramatisasi.

Aneh, justru itu terasa melegakan.

“Batu itu hasil selundupan?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena tidak pernah tercatat sebagai benda yang ditemukan.”

“Artinya?”

“Secara arkeologis, batu itu tidak ada.”

Aku bersandar.

“Benda di rumah saya tidak ada?”

“Menurut sejarah resmi.”

“Dari mana?”

Abdi menatapku.

“Bapak Anda tidak pernah bilang?”

“Borobudur.”

Ia mengangguk.

“Bagian mana?”

“Bukan dari candinya.”

“Terus?”

“Dari bawahnya.”

Diam.

Aku tertawa.

“Tidak.”

Abdi tidak bereaksi.

“Borobudur nggak punya basement.”

“Betul.”

“Nah.”

“Yang diketahui orang.”

Aku menatapnya.

“Kita sudah masuk wilayah ngawur.”

“Belum.”

Ia melihat jam.

“Boleh ambil batunya?”

“Tidak.”

“Bawa sendiri.”

Aku berdiri.

“Untuk apa?”

“Jam berapa sekarang?”

“Kenapa?”

“Lihat.”

18.21.

“Terus?”

“Bawa batu ke halaman.”

Aku hampir menyuruhnya pulang.

Tapi rasa ingin tahu punya reputasi lebih buruk daripada kebodohan.

Aku naik.

Mengambil batu.

Tidak menunjukkan langsung.

Kubungkus kain.

Kami keluar ke halaman belakang.

Matahari hampir hilang.

Abdi melihat posisi rumah.

Lalu langit.

“Taruh di telapak tangan.”

Aku membuka kain.

Batu muncul.

Abdi tidak mendekat.

Matanya berubah.

Bukan kagum.

Sedih.

Aneh.

Seperti bertemu teman lama.

“Putar.”

Aku memutar.

“Bagian patah ke utara.”

“Utara mana?”

Ia menunjuk.

Aku mengikuti.

“Sekarang angkat sedikit.”

“Begini?”

“Ya.”

Tidak terjadi apa-apa.

Aku menatap Abdi.

“Spektakuler.”

“Tunggu.”

Matahari turun.

Cahaya terakhir mengenai permukaan batu.

Aku merasakan sesuatu.

Gerakan.

Sangat kecil.

“Batu bergerak?”

Abdi diam.

Aku mengangkat telapak.

Batu itu memang bergerak.

Tidak banyak.

Berputar beberapa milimeter.

Berhenti.

Lalu bergerak lagi.

Seperti jarum kompas yang terlalu berat.

“Magnet.”

“Coba pindah tangan.”

Aku pindah.

Gerakannya tetap.

Aku membalik posisi.

Batu berputar kembali.

Selalu menuju arah yang sama.

Bukan utara.

Aku mengambil kompas telepon.

Arah batu berbeda sekitar dua puluh derajat.

“Ke mana?”

Abdi tidak menjawab.

Aku mengikuti garis imajiner dari ujung batu.

Timur.

Sedikit selatan.

“Borobudur?”

Abdi mengangguk.

Aku menelan ludah.

“Batu ini menunjuk Borobudur?”

“Tidak.”

“Terus?”

Abdi melihatku.

“Kalau cuma Borobudur, gampang.”

Ia menunjuk batu.

“Benda itu mencari posisi tertentu.”

“Di candi?”

“Di bawah.”

Lagi.

Aku kesal.

“Pak Abdi, saya sudah cukup tua untuk tidak punya waktu buat teka-teki.”

“Justru karena Anda sudah cukup tua.”

Ia menatapku.

“Waktunya tinggal sedikit.”

Kalimat itu tidak enak.

“Waktu untuk apa?”

Abdi melihat langit.

“Dua puluh November.”

Aku membeku.

Tanggal.

Sama dengan salah satu catatan Ayah.

“Kenapa tanggal itu?”

“Jam tiga pagi.”

Darahku seperti turun.

Prolog.

Suara Ayah.

Titik Nol.

Aku menggenggam batu.

“Pak Abdi.”

“Ya.”

“Siapa Sina?”

Untuk pertama kali, ketenangan wajahnya retak.

Hanya sedikit.

Cukup.

“Anda kenal.”

“Bukan itu.”

Aku mendekat.

“Siapa sebenarnya Alexandria Sienna?”

Abdi tidak menjawab.

Aku menunjukkan foto lama yang tadi kubawa.

Sina.

Delapan belas tahun.

Abdi melihatnya.

Wajahnya pucat.

“Dari mana Anda punya ini?”

“Dia teman saya.”

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

Abdi mengambil foto.

Tangannya gemetar.

“Pak Abdi.”

Ia membalik foto.

Melihat bangunan batu di belakang Sina.

Lalu penunggang kuda.

Wajahnya kehilangan warna.

“Foto ini kapan?”

“Sekitar 1984.”

Abdi menatapku.

“Tidak.”

“Apa yang tidak?”

“Foto ini bukan diambil tahun 1984.”

“Ya mungkin beberapa tahun sesudahnya.”

“Bukan.”

Ia menunjuk bangunan di belakang Sina.

“Apa?”

Abdi tidak menjawab.

“Pak Abdi.”

Ia mengangkat wajah.

“Bangunan ini sudah tidak ada.”

Aku menunggu.

“Sejak kapan?”

Bibirnya bergerak.

Pelan.

“Lebih dari seribu tahun.”

Aku tidak tertawa.

Entah kenapa.

Abdi mengembalikan foto.

Kemudian menunjuk penunggang kuda di belakang Sina.

“Dan itu…”

Ia berhenti.

“Apa?”

Tatapannya berpindah dari foto kepadaku.

“…Anda.”

READER NOTES

Jejak Pembaca

Tinggalkan Jejak

Komentar pertama dapat menunggu persetujuan. Setelah dikenal, komentar berikutnya dapat tampil otomatis sesuai pengaturan situs.