PEREMPUAN YANG MELUPAKAN

Sina sadar hari ketujuh.
Aku datang pagi-pagi.
Bawa jeruk.
Tidak penting sebenarnya.
Orang kalau gugup suka bawa buah.
Keluarganya sudah di sana.
Aku belum pernah bertemu mereka.
Ibunya tinggi.
Kulit terang.
Wajah lelah.
Ayahnya lebih banyak diam.
Mereka memperlakukanku baik.
Terlalu baik.
Itu justru bikin rasa bersalah makin berat.
Ibunya menyentuh bahuku.
“Kamu Solo?”
Aku mengangguk.
“Sina sering cerita.”
Dada sesak.
“Dia gimana, Tante?”
“Sudah sadar.”
Aku hampir tersenyum.
“Tapi…”
Nah.
Selalu ada tapi.
“…dia masih bingung.”
“Aku boleh masuk?”
Ibunya menatap suaminya.
Lalu mengangguk.
“Sebentar.”
Aku masuk.
Sina ada di ranjang.
Kepalanya dibalut.
Wajahnya pucat.
Tapi hidup.
Itu cukup.
Aku mendekat.
“Sina.”
Matanya bergerak ke arahku.
Tidak ada senyum.
Aku berhenti.
“Sina?”
Dia menatapku lama.
Lalu ke ibunya.
“Siapa?”
Kalimat itu pendek.
Dampaknya tidak.
Ibunya mendekat.
“Teman sekolahmu.”
Sina kembali menatapku.
Aku mencoba tersenyum.
“Solo.”
Tidak ada reaksi.
“Solowatu.”
Tetap kosong.
Aku duduk.
“Gue yang sering salah matematika itu.”
Tidak ada.
“Yang katanya jet lag.”
Masih tidak ada.
Aku mulai kehabisan humor.
Buruk.
Humor biasanya alat pertahanan terakhir.
Kalau itu pun habis, manusia tinggal telanjang.
Aku melihat tangannya.
Ada pensil.
Kertas.
Beberapa coretan.
“Sina suka gambar?”
Ibunya mengangguk.
“Sejak sadar.”
Aku melihat kertas.
Lingkaran.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku berhenti bernapas.
Delapan garis keluar dari tengah.
Sama.
Persis.
Aku mendekat.
“Sina…”
Ia cepat menarik kertas.
Wajahnya takut.
Aku angkat tangan.
“Oke. Oke.”
Dia memegang kertas ke dada.
Aku menatap ibunya.
“Dia gambar ini terus?”
Ibunya mengangguk.
“Berulang.”
“Dari kapan?”
“Sejak bangun.”
Aku berdiri.
“Boleh aku lihat yang lain?”
Ibunya mengambil map.
Ada banyak.
Pola sama.
Kadang kasar.
Kadang rapi.
Kadang cuma lingkaran.
Kadang ada garis.
Aku membuka satu demi satu.
Lalu berhenti.
Satu kertas berbeda.
Ada tulisan.
Tiga huruf.
K U T
Huruf keempat belum selesai.
Aku melihat Sina.
Dia sedang menatapku.
Bukan kosong lagi.
Takut.
“Sina.”
Bibirnya bergerak.
Aku mendekat.
“Apa?”
Suaranya serak.
“Jangan…”
Aku menahan napas.
“Jangan apa?”
Ia melihat ke pintu.
Lalu ke aku.
“Bawa…”
Aku makin dekat.
“Apa?”
Matanya jatuh ke tas yang kubawa.
Tas yang di dalamnya ada batu.
Aku lupa sudah membawanya.
Wajah Sina langsung pucat.
“Jangan…”
Monitor di samping ranjang mulai berbunyi lebih cepat.
Ibunya panik.
Perawat masuk.
Aku mundur.
“Sina.”
Dia menutup mata.
Tangannya meremas kertas.
Sebelum perawat menggeserku keluar, Sina bicara sekali lagi.
Sangat pelan.
Tapi jelas.
“Jangan bawa dia ke sini.”
Aku membeku di pintu.
Dia.
Bukan itu.
Bukan batu itu.
Dia.
Di lorong, aku duduk sendiri.
Ibunya keluar beberapa menit kemudian.
“Maaf.”
Aku berdiri.
“Kenapa maaf?”
“Dia belum stabil.”
Aku mengangguk.
“Dia bilang apa?”
Aku ragu.
“Tidak jelas.”
Bohong pertama hari itu.
Mungkin bukan yang terakhir.
Ibunya memegang lenganku.
“Ada satu hal.”
Aku menatapnya.
“Setelah kecelakaan, kami menemukan buku hariannya.”
Aku diam.
“Banyak tentang kamu.”
Aku tidak tahu harus senang atau sedih.
“Dia…”
Ibunya tersenyum tipis.
“…sayang sekali sama kamu.”
Kalimat itu masuk seperti pisau tumpul.
Lambat.
Dalam.
Aku mengangguk.
“Boleh aku pinjam bukunya?”
Senyum itu hilang.
“Tidak.”
Cepat.
Lagi.
“Kenapa?”
“Pribadi.”
“Kalau soal aku?”
“Solo.”
“Cuma mau tahu.”
“Tidak.”
Aku mundur.
“Oke.”
Sebelum pergi aku menoleh ke kamar.
Sina kembali menggambar.
Tiga lingkaran.
Delapan garis.
Satu titik di tengah.
Kali ini titik itu hitam.
Jejak Pembaca