← Semua Bab
AHLI WARIS
BAB 7

LUKISAN DARI BELANDA

3 min read·0 likes

Empat puluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk melupakan seseorang.

Ternyata tidak.

Cukup panjang untuk belajar tidak memikirkannya.

Itu berbeda.

Aku tahu karena pukul 02.17 pagi, ketika nama yang sudah puluhan tahun tidak kusebut muncul begitu saja di kepalaku.

Sina.

Aku terbangun.

Tidak ada mimpi.

Tidak ada suara.

Hanya nama.

Aku melihat jam.

02.17.

“Kurang kerjaan,” gumamku.

Aku membalik badan.

Mencoba tidur lagi.

Gagal.

Umur enam puluhan punya beberapa keistimewaan. Kandung kemih lebih rajin daripada alarm, sendi bisa meramal cuaca, dan otak mendadak membuka arsip yang tidak diminta.

Aku turun.

Minum.

Mengecek telepon.

Kesalahan.

Begitu layar menyala, manusia modern resmi kehilangan hak untuk tidur.

Email.

WhatsApp.

Berita.

Satu notifikasi dari nomor tidak dikenal.

Aku membuka.

Tidak ada teks.

Hanya foto.

Sebuah lukisan.

Borobudur.

Aku berdiri diam di dapur.

Zoom.

Lukisan tua.

Cat minyak.

Langit kelabu.

Candi terlihat dari kejauhan.

Di pojok kiri bawah ada pohon besar.

Aku mengenalnya.

Bukan lukisannya.

Bingkainya.

Aku kembali ke ruang kerja.

Menyalakan lampu.

Membuka lemari paling bawah.

Kotak itu masih ada.

Kayu.

Kunci kecil.

Sudah berkarat.

Aku membuka.

Batu.

Surat.

Potongan foto Sina.

Dan beberapa foto lama keluarga.

Kucari satu.

Amsterdam.

Ayah berdiri di ruang kerjanya.

Lebih muda.

Lebih gemuk.

Sehat.

Di belakangnya—

lukisan itu.

Aku melihat telepon.

Foto lama.

Telepon lagi.

Sama.

Bingkai gelap.

Ukiran kecil di sudut.

Aku memperbesar pesan.

Ada tulisan di bawah foto.

Baru muncul.

Apakah Anda mengenali lukisan ini?

Aku mengetik.

Siapa ini?

Centang satu.

Dua.

Tidak ada jawaban.

Aku menelepon.

Nomor tidak aktif.

Bagus.

Pukul dua pagi, ada orang mengirim foto lukisan milik ayahku empat puluh tahun lalu lalu mematikan telepon.

Cara yang elegan untuk merusak tidur orang tua.

Aku hendak menutup layar ketika pesan kedua masuk.

Bukan dari nomor tadi.

Email.

Subjek:

Estate van der Meer — Rotterdam

Nama itu tidak kukenal.

Kubuka.

Bahasa Belanda.

Singkat.

Sebuah rumah lelang sedang melakukan verifikasi provenance beberapa benda dari koleksi keluarga yang baru meninggal.

Salah satunya lukisan Borobudur.

Nama ayahku tercatat dalam dokumen kepemilikan lama.

Mereka ingin memastikan hubungan keluarga.

Aku duduk.

Dua kejadian dalam lima menit.

Kebetulan punya reputasi buruk kalau datang bergerombol.

Kubalas.

Meminta foto belakang lukisan.

Jawaban datang lima belas menit kemudian.

Profesional.

Cepat.

Tiga foto.

Bagian belakang kanvas.

Cap galeri.

Tulisan tangan.

Nomor inventaris.

Dan sebuah simbol kecil pada kayu bingkai.

Aku mendekat.

Tiga lingkaran.

Delapan garis.

Titik di tengah.

Tidak.

Aku memperbesar.

Titiknya bukan titik.

Ada aksara kecil.

Sangat kecil.

Kubuka kotak.

Mengambil batu.

Membandingkan.

Tulisan yang sama.

Solo.

Aku menatap layar.

Lalu batu.

Empat puluh tahun lalu aku memutuskan semua itu selesai.

Rupanya masa lalu tidak ikut rapat.

Pagi harinya aku menelepon rumah lelang.

Seorang perempuan bernama Eva menjawab.

Bahasa Belandaku masih lumayan.

Sedikit berkarat.

Seperti engsel pintu lama.

“Lukisan itu dari mana?”

“Dari estate keluarga Van der Meer.”

“Siapa?”

“Pieter van der Meer.”

Tidak kenal.

“Hubungannya dengan ayah saya?”

“Kami belum tahu.”

“Kenapa nama ayah saya ada?”

“Kami menemukan invoice lama.”

“Tahun?”

Kertas bergerak di ujung sana.

“1979.”

Aku diam.

Empat tahun sebelum Ayah memberikan batu.

“Bisa kirim?”

“Tentu.”

Email masuk.

Invoice.

Nama Ayah.

Nomor lukisan.

Harga.

Tanggal.

Semuanya tampak normal.

Sampai kulihat satu baris di bagian bawah.

Origin: Central Java.

Di sebelahnya ada tulisan tangan.

Bukan bahasa Belanda.

Bukan Inggris.

Aksara Jawa.

Aku membacanya pelan.

Watu ora didol.

Batunya tidak dijual.

Aku memegang telepon lebih erat.

“Eva.”

“Ya?”

“Siapa yang menulis catatan ini?”

“Kami tidak tahu.”

“Apakah ada dokumen lain?”

“Sebentar.”

Suara keyboard.

“Ya.”

“Apa?”

“Surat.”

“Dari siapa?”

Hening beberapa detik.

“Nama pengirimnya tidak lengkap.”

“Baca.”

“Initial S.”

Aku menunggu.

“Cuma S?”

“Tidak.”

Kertas bergerak lagi.

“Sepertinya nama perempuan.”

Dadaku mengencang.

“Nama apa?”

Eva mengeja.

“A-l-e-x-a-n-d-r-i-a.”

Aku tidak menjawab.

“Pak Solo?”

“Ya.”

“Masih di sana?”

“Ya.”

Aku menatap potongan foto di meja.

Wajah perempuan delapan belas tahun.

Mata yang pernah lupa siapa aku.

“Nama belakang?”

Eva menjawab.

“Sienna.”

READER NOTES

Jejak Pembaca

Tinggalkan Jejak

Komentar pertama dapat menunggu persetujuan. Setelah dikenal, komentar berikutnya dapat tampil otomatis sesuai pengaturan situs.