← Semua Bab
AHLI WARIS
BAB 6

HILANG

3 min read·0 likes

Aku masih datang.

Hari kesepuluh.

Hari keempat belas.

Hari kedua puluh.

Kadang Sina mengingat wajahku.

Kadang tidak.

Kadang dia tersenyum.

Lalu lima menit kemudian bertanya siapa namaku.

Manusia rupanya bisa kehilangan seseorang berkali-kali tanpa orang itu pergi ke mana-mana.

Lebih sadis daripada kematian.

Kalau mati, jelas.

Kalau lupa, harapan masih hidup.

Dan harapan yang tidak jelas itu boros energi.

Ayah benar soal berhitung.

Tapi beliau tidak pernah mengajari cara menghitung kehilangan.

Hari ketiga puluh, Sina dibawa ke Jakarta.

Dokter menyarankan perawatan lanjutan.

Aku datang sebelum mereka berangkat.

Mobil sudah menunggu.

Barang-barang masuk.

Ibunya memelukku.

Ayahnya menjabat tangan.

Sina duduk di kursi belakang.

Aku mendekat.

“Sina.”

Dia menatapku.

Ada jeda.

Lalu—

“Solo.”

Aku tersenyum.

Pertama kali namaku keluar normal dari mulutnya sejak kecelakaan.

“Ya.”

Dia tersenyum kecil.

“Maaf.”

“Buat apa?”

“Lupa.”

Aku tertawa.

Tidak lucu.

“Gapapa.”

Dia melihatku lama.

“Aku kenal kamu.”

“Harusnya.”

“Tapi…”

Aku menunggu.

“…rasanya lebih lama.”

Aku mengerutkan dahi.

“Lebih lama gimana?”

Dia menatap tangannya.

“Aku nggak tahu.”

Ibunya membuka pintu.

“Kita harus jalan.”

Aku mundur.

“Sina.”

“Ya?”

“Cepat sembuh.”

Dia mengangguk.

Mobil bergerak.

Aku berdiri sampai hilang dari pandangan.

Bodoh.

Tapi manusia cinta memang banyak ritual bodoh.

Bulan pertama kami masih berhubungan.

Telepon.

Surat.

Kabar dari keluarganya.

Kondisinya membaik.

Memori datang pelan.

Tidak semuanya.

Kemudian frekuensi berkurang.

Dua bulan.

Tiga.

Enam.

Alamat berubah.

Telepon tidak tersambung.

Surat kembali.

Aku mencoba lagi.

Tidak ada.

Setahun kemudian aku kembali ke alamat lama di Jakarta.

Rumah kosong.

Tetangga bilang sudah pindah.

Ke mana?

Tidak tahu.

Aku mencari lewat sekolah.

Tidak ada kabar.

Kerabat.

Tidak jelas.

Nama Alexandria Sienna seperti dihapus dari peta.

Sampai suatu sore sebuah amplop tiba.

Tanpa nama pengirim.

Cap pos Jakarta.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas.

Tidak ada surat.

Tidak ada salam.

Tidak ada tanda tangan.

Gambar.

Tiga lingkaran.

Delapan garis.

Titik hitam di tengah.

Dan satu kata di bawahnya.

Ditulis tangan.

SOLOWATU

Aku membaca berkali-kali.

Balik kertas.

Kosong.

Amplop.

Kosong.

Kemudian sesuatu jatuh dari lipatan bawah.

Potongan kecil foto.

Hanya sebagian.

Wajah Sina.

Lebih dewasa.

Entah kapan diambil.

Di belakangnya ada sesuatu yang samar.

Sebuah bangunan batu.

Aku mendekatkan foto ke lampu.

Bukan Borobudur.

Bentuknya terlalu tinggi.

Terlalu utuh.

Terlalu asing.

Di sisi foto ada bayangan seseorang.

Laki-laki.

Membelakangi kamera.

Menunggang kuda.

Aku diam lama.

Lalu tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kadang otak butuh jalan keluar murah supaya tidak langsung gila.

Aku simpan foto.

Kertas.

Amplop.

Dan batu.

Semua masuk satu kotak.

Kututup.

Kunci.

Selesai.

Setidaknya begitu pikirku.

Aku melanjutkan hidup.

Kuliah.

Kerja.

Menikah.

Anak.

Film.

Teknologi.

Tagihan.

Kehidupan normal.

Puluhan tahun lewat.

Sina menjadi satu nama yang tidak lagi kusebut.

Borobudur menjadi satu tempat yang kuusahakan tidak kupikirkan.

Batu itu tinggal diam di dalam kotak.

Diam sangat lama.

Sampai satu malam.

Empat puluh tahun kemudian.

Teleponku bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Satu pesan.

Tanpa salam.

Tanpa nama.

Hanya lima kata.

KEMBALI KE TITIK NOL, SOLO.

Di bawahnya ada koordinat.

Borobudur.

READER NOTES

Jejak Pembaca

Tinggalkan Jejak

Komentar pertama dapat menunggu persetujuan. Setelah dikenal, komentar berikutnya dapat tampil otomatis sesuai pengaturan situs.